Quote:
dokumentasi "VERSI" elektronik-ku ini bermaksud membiasakan menggunakan " LESS PAPER " ,serta "PENGHORMATAN ATAS KEBEBASAN BERPENDAPAT,BEREKSPRESI,& BERKREASI," utk menyampaikan informasi,dalam "AKTIVITAS HARIAN".. beberapa "ada" yang dikutip dari berbagai sumber yang *inspiratif* jika ada yg kurang berkenan mohon dimaklumi,jika berminat utk pengembangan BloG ini silahkan kirim via email. mrprabpg@gmail.com...Thank's All Of You

running text

Search This Blog

sudah lihat yang ini (klik aja)?

Sunday, November 8, 2015

PPKS : lahan habis terbakar tidak bisa ditanami

Pontianak - Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Dr Hasril Siregar menyatakan lahan yang habis terbakar secara teknis tidak bisa langsung ditanami bibit kelapa sawit.

"Sehingga tidak benar kalau ada yang menanam sawit di lahan bekas terbakar atau yang dibakar, seperti yang ramai diberitakan di kawasan konservasi orangutan (arboretum) Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah," kata Hasril dalam keterangan tertulis yang diterima di Pontianak, Sabtu.

Penanaman bibit kelapa sawit pada lahan yang tidak terbakar saja harus memenuhi syarat cukup air, minimal telah turun hujan 50 mm/100 hari atau pada bulan basah dengan curah hujan 100-200 mm/bulan, kata Hasril Siregar

Syarat itu pun belum cukup, sebab penanaman bibit sawit di lahan yang cukup hujan juga harus mengikuti teknis pemancangan, pelubangan terbuka sekitar satu minggu dan diberi pupuk dasar jenis fosfat.

Terkait pembakaran lahan yang kemudian ditanami sawit, Kepala Rumah Tangga Kelurahan Tumbang Tahai, Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya, Kalteng, Rudi ketika dihubungi belum lama ini mengatakan lahan yang ditanami sawit oleh masyarakat berada di Jalan tjilik Riwut KM 26 dan sudah dibakar lima bulan lalu.

"Kami sudah membakar lahan di KM 26 ini lima bulan yang lalu. Sedangkan lahan yang dibakar baru-baru ini adalah yang di KM 27. Jadi dalam hal ini lahan yang dibakar dengan lahan yang ditanami adalah lahan yang berbeda," kata dia.

Rudi menambahkan, tidak mungkin petani menanam bibit sawit di lahan yang baru saja dibakar. Apabila itu dilakukan, kata pria asli suku Dayak ini, maka bibit sawit akan mati. Artinya, lahan yang ditanam bibit kelapa sawit bukanlah lahan yang dibakar dua minggu yang lalu.

Rudi yang sudah turun temurun tinggal di pinggiran Sungai Tahai ini mengakui kalau lahan di KM 26 dan 27 tersebut sengaja dibakar oleh masyarakat. Menurut Rudi, rencana luas areal yang akan ditanami untuk kelapa sawit mencapai 38 hektare. Dari angka tersebut, 24 ha milik kelompok masyarakat Kelurahan Tumbang Tahai.

Ia menegaskan, bahwa lahan yang dibakarnya bukanlah milik perusahaan. Lahan yang dibakar tersebut adalah bagian dari kearifan lokal masyarakat Dayak yang sudah dilakukan turun temurun. Bahkan hal tersebut juga tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Kalimantan Tengah Nomor 52 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembukaan Lahan dan Pekarangan Bagi Masyarakat di Kalimantan Tengah.

Dalam Pergub tersebut diterangkan bahwa kewenangan izin pembakaran tersebut berdasarkan luas areal yang akan dibakar. Di pergub tersebut dijabarkan bahwa untuk luas lahan sampai dengan satu hektare harus izin terlebih dahulu ke ketua RT. Kemudian untuk luas lahan di atas 1-2 ha izin ke lurah atau kepala desa, dan untuk di atas 2-5 ha wajib izin ke camat.

Dalam pergub tersebut juga dijelaskan bahwa pemberian izin pembakaran secara kumulatif pada wilayah dan hari yang sama. Adapun untuk tingkat kecamatan maksimal 100 hektare. Sedangkan untuk tingkat kelurahan atau desa maksimal 25 hektare. Izin tersebut diberikan untuk masyarakat, bukan perusahaan.

"Kami melakukan ini sudah sesuai perosedur dan sudah memperhitungkannya," tutur Rudi.

Hal senada juga dikatakan Helmuth Gasan, tokoh masyarakat Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya. Ia menegaskan bahwa informasi lahan yang terbakar dua minggu lalu itu berada di KM 26 tidak benar.

"Yang terbakar dua minggu yang lalu adalah lahan yang di KM 27," kata dia.

Dia menegaskan lahan di KM 26 saat ini sudah banyak tumbuh kelakai, tumbuhan paku khas Kalimantan Tengah. "Jadi, tidak mungkin dua minggu terbakar, tanaman tersebut (kelakai) tumbuh," ujar Helmuth.

Menurutnya, pembakaran lahan tersebut dilakukan karena orang Dayak ingin menanam kelapa sawit, tapi tidak mempunyai modal yang cukup untuk melakukan pembukaan lahan tanpa melakukan pembakaran, sehingga dilakukan pembakaran secara bertahap.

Sebelumnya, kata Helmuth, masyarakat membudidayakan tanaman padi gogo dan karet.

"Belakangan tanaman-tanaman tersebut tidak menguntungkan lagi karena harganya jatuh. Maka itu, petani berinisiatif menanam sawit," jelas Helmuth.




Pewarta:
(U.A057/S024)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015

No comments:

cari apa aja di OLX

Sponsor By :

TEMBAKAU DELI

Hobies

Momentum

DIREKSI PTPN 2012

Dirut PTPN I Wargani Direktur:Ramadhan Ismail Direktur:Abdul Mukti Nasution Direktur:Amrijal Direktur:Husni Ibrahim Dirut PTPN II Bhatara Moeda Nasution Direktur:Naif Ali Dahbul Direktur:Wisnu Budi Direktur:Komaruzaman Direktur:Hakim Bako Dirut PTPN III Megananda Daryono Direktur:Kusumandaru Direktur:Bagas Angkasa Direktur:Balaman Tarigan Direktur:Nurhidayat Direktur:Erwan Pelawi Direktur:Rahmad Prawirakusumah Dirut PTPN IV Erwin Nasution Direktur:Ahmad Haslan Saragih Direktur:Andi Wibisono Direktur:Setia Dharma Sebayang Direktur:Memet Dirut PTPN V Fauzi Yusuf Direktur:Suharjoko Direktur:Pontas Tambunan Direktur:Samsul Rizal Direktur:Berlino Mahendra Dirut PTPN VI Iskandar Sulaiman Direktur:Fahrur Razi Lubis Direktur:Ahmad Karimuddin Direktur:Arfinaldi Direktur:Nasulian Arifin Dirut PTPN VII Boyke Budiman Direktur:M. Nasir Direktur:Agus Rianto Direktur:Rafael Sibagariang Direktur:Budi Santoso Dirut VIII Dadi Sunardi Direktur:Irwan Abdul Direktur:Rahman Lubis Direktur:Dikdik Koesandi Direktur:Rahman Slamat Dirut IX Adi Prasongko Direktur:Slamat Purwadi Direktur:Natsir Tarigan Direktur:Ishak Direktur:Hanung Dirut X Subiyono Direktur:Doli P. Pulungan Direktur:Tarsisius Sudarianto Direktur:Mhd Sultan Direktur:Joko Sanioso Dirut XI Andi Punoko Direktur:Titis Adji Direktur:Burhan Chatib Direktur:Budi Hidayat Direktur:Eri Iswadi Dirut XII Singgih Irwan Basri Direktur:Sugeng Budiraharjo Direktur:Bambang Wijanarko Direktur:Sahala Hutasoit Direktur:Swarno Dirut XIII Baim Rachman Direktur:Sunardi Direktur:Anang Direktur:Umar Direktur:Pandapotan Girsang Dirut XIV Budi Purnomo Direktur:Amirullah Haris Direktur:Rispan Adi Adris Direktur:Mardianto Dirut RNI Persero Ismed Hasan Putro.