Quote:
dokumentasi "VERSI" elektronik-ku ini bermaksud membiasakan menggunakan " LESS PAPER " ,serta "PENGHORMATAN ATAS KEBEBASAN BERPENDAPAT,BEREKSPRESI,& BERKREASI," utk menyampaikan informasi,dalam "AKTIVITAS HARIAN".. beberapa "ada" yang dikutip dari berbagai sumber yang *inspiratif* jika ada yg kurang berkenan mohon dimaklumi,jika berminat utk pengembangan BloG ini silahkan kirim via email. mrprabpg@gmail.com...Thank's All Of You

running text

Search This Blog

sudah lihat yang ini (klik aja)?

Saturday, December 17, 2016

SEJARAH KOMERSIALISASI KOMODITAS PERKEBUNAN SETELAH...

:KRISIS TEMBAKAU DELI
Sejak boomingnya komoditas Tembakau Deli di dunia internasional sekitar tahun 1880an naluri bisnis yang mencari untung besar selalu berupaya untuk mendongkrak produksi namun karena yang namanya tanaman hidup memerlukan media tanam yaitu “lahan yang lebih luas” dampaknya banyak perkebunan tembakau dibuka di daerah-daerah sekitar Deli, Langkat, dan Serdang.
Pada akhir dekade 1880an mulai tampak gejala-gejala kelebihan produksi, celakanya terlebih-lebih dalam tahun 1891, sewaktu panen tembakau ternyata berjumlah lima puluh ribu bal lebih banyak ketimbang tahun 1890.
Sebagai akibat “NAFSU” kelebihan produki ini sangat lumrah...muncul kemelut persoalan baru yang mengakibatkan harga di pasaran internasional anjlok lebih dari lima puluh persen di bawah tingkat harga tahun 1890. Beberapa faktor logis jika di kaji menurut hukum ekonomi ketika itu adalah :
1.       Pasaran internasional mengalami kelebihan Stok tembakau, lantara melonjaknya produksi tembakau Deli.
2.     Amerika menerapkan undang-undang bea masuk yang tinggi terutama impor tembakau yang dikenal “tarif bea McKinley”, sehingga dalam tahun 1891, pembelian tembakau oleh A.S. tertekan bahkan tidak terjadi. bagi yang persediaan tembakau di satu pihak masih cukup, terpaksa menunda pembelian tembakau di lain pihak.
Akibatnya di Indonesia mulai tahun 1891 sempat ada ditutupnya beberapa perkebunan tembakau. Sejak tahun 1890 dan 1894, tidak kurang dari duapuluh lima perusahaan tembakau dibubarkan. Karena luas tanah yang harus ditanami tembakau haruslah dikurangi.
Kemelut tahun 1891 menandakan ”sangkakala” fase pertama dari sejarah ekonomi khusu tembakau Deli diPantai Sumatera Timur.
Sesudah kemelut itu, mulailah para pengusaha berkonsolidasi. Bagi Spekulan yang hanya aktif dalam perusahaan-perusahaan tembakau selama fase pertama meninggalkan Pantai Sumatera Timur, apalagi perkebunan-perkebunan tembakau yang cuma mempunyai kepentingan dalam investasi perkebunan-perkebunan tembakau yang “sehat” saja.
Pengusaha-pengusaha yang “tinggal” lalu giat berusaha untuk mengadakaan rasionalisasi dalam penanaman tembakau, a.l. dengan perbaikan metoda-metoda produksi dan dengan mengadakan penelitian ilmiah yang ditujukan untuk memperbaiki mutu tembakau Deli yang mutunya digemari.
Namun demikian ternyata disisi lain pebisnis atau pengusaha-pengusaha perkebunan yang lain tidak habis akal, lalu bagaimana agar perusahaannya tidak merugi lebih banyak manakala ditutup dan mau usaha apa lagi ya kalau bisa jangan ikutan hengkang dari indonesia ?..kemudian mulailah melirik tanaman/komoditas lain sempat tergiur dengan komoditas kopi di daerah serdang (deli-serdang) namun dalam perjalannya kenyataan kalah bersaing pula dengan komoditas kopi asal brasil sehingga dianggap kurang menguntungkan, nahh muncullah komoditas karet
KARET
Pemerintah Belanda terus mengadakan perbaikan, diperkenalkanlah Karet jenis baru (Castiloa Elastica atau Hevea Brasiliensis) yang ditemukan oleh Michele de Cuneo pada tahun 1493 di Amerika Selatan.
ada catatan sbb :
"Perkebunan Swasta berdiri dengan pesat sejak tahun 1885 di Onderneming tembakau Marindal telah dilakukan percobaan penanaman karet. Hal ini dilakukan pengusaha perkebunan untuk usaha mencari tanaman baru setelah selesai menanam tembakau". (John Anderson, 1962 : 35).

Namun (menurut saya sih) kalau begitu persoalannya adalah Karet dan Tembakau adalah type tanaman batang yang berbeda kan...tembakau adalah tanaman semusim atau berumur pendek sedangkan karet berumur panjang dan jenis tanaman keras (20-30 tahun)....kalau ditanami/diganti karet semua ketika itu lalu kapan menanam tembakaunya ya??? bukankah hanya mencari selingan dari off nya proses produksi tembakau? ...( ternyata sejalan dengan logika saya.........)

Tahun 1889, Pemerintah Belanda sudah membuka perkebunan karet di daerah Pamanukan dan Ciasemlanden, Jawa Barat dengan karet yang ditanam jenis Fiscus elastica. Perkebunan ini dianggap sebagai perkebunan karet tertua di dunia.

varietas awalnya yg dikenal ficus elastica pada 1898 mulai di ujicoba di pantai sumatera, belum (Hevea Brasiliensis) pelopornya J.C. Bunge dan kawan-kawan , akhirnya karet di perluas, tanaman kopi diganti komoditas karet, sehingga pengusaha banyak beralih ke perkebunan karet yang dikembangkan di daerah Serdang (Deli-Serdang).
namun varietas pohon karet ini hasilnya masih dinilai kurang memuaskan karena produktivitas lateks rendah dan tanaman mudah terserang hama dan penyakit, maka Kemudian mereka mulai mencari daerah di Indonesia yang cocok untuk ditanami karet jenis lain yaitu Hevea Brasiliensis.

Secara komersial di Indonesia pemerintah kolonial Belanda mulai membuka investasi lahan perkebunan karet kepada pengusaha dari berbagai negara pada tahun 1902, yang berlokasi di Sumatra Timur terus berkembang ke Sumatra Selatan, Jambi dan Bengkulu  dan kemudian dilanjutkan di Jawa pada tahun 1906 (untuk jenis baru ini).
( Ilustrasi Dokumentasi Foto /: Mrprab )

Menurut catatan Karet (Hevea brasiliensis) Kemudian ada juga dibawa oleh perusahaan perkebunan asing ditanam di Sumatera Selatan. dalam bentuk Badan Usaha "Harrison and Crossfield Company" adalah perusahaan asing pertama yang mulai menanam karet di Sumatera Selatan dalam suatu perkebunan yang dikelola secara komersial.
di indonesia Harrison and Crossfield Company Awal berdirinya sih, adalah perusahaan perkebunan dan perdagangan yang berbasis di London didirikan tahun 1906. kemudian Perseroan melakukan penanaman karet dan diversifikasi melalui teh dan kakao.
Akibat peningkatan permintaan akan karet di pasar internasional, maka pemerintahan Nedherland Indies yang kala itu kekurangan modal tidak tinggal diam, nahhh...lagi-lagi kepiawaian Jacob Theodoor Cremer "dipergunakan" untuk merangkul menawarkan peluang penanaman modal bagi investor luar Nedherland. Amerika Serikat Rubber Company dan General Rubber Company berminat lalu mendirikan Perusahaan Belanda–Amerika, Holland Amerikaance Plantage Maatschappij (HAPM) pada tahun 1910-1911 menanamkan modal dalam membuka perkebunan karet di Sumatera. Di Asahan  ada kantornya,namun sekarang sudah berganti dimiliki Bakrie Sumatra Plantation . Perluasan perkebunan karet di Sumatera berlangsung mulus karena sudah dirintisnya transportasi yang ketika itu ada kereta api (DSM). Namun Umumnya sarana transportasi ini merupakan andil dan warisan dari usaha perkebunan tembakau di deli juga yang telah dialihkan dan mengembangkan sayapnya demi kepentingan Maatschappij dan Pemerintahan Hindia-Nedherland yang lebih luas. 
Hal-hal lain yang ikut menunjang dibukanya perkebunan karet antara lain karena pemeliharaan tanaman karet dianggap relatif mudah. Pada masa itu, penduduk umumnya sudah membudidayakan karet sambil menanam padi. Namun, mereka tetap memantau pertumbuhan karet yang telah ditanam secara berkala hingga dapat dipanen.
Bersamaan dengan itu naluri (keuntungan) para pebisnis komoditas perkebunan terus bergolak positif dan dilatarbelakangi kesadaran atas bahayanya monoculture economy ketika masa tembakau Deli, maka muncullah pemikiran perlunya diversifikasi komoditas berprospek lainnya disamping karet yaitu KELAPA SAWIT..
KELAPA SAWIT
Menurut  sejarah pada awalnya  Tanaman ini dikenal di dunia barat setelah orang Portugis berlayar ke Afrika tahun 1466. Ketika itu dalam perjalanan ke Pantai Gading (Ghana), penduduk setempat terlihat menggunakan kelapa sawit untuk memasak maupun untuk bahan kecantikan. 
Pada tahun 1836 sudah di coba menanam kelapa sawit di India dan Kepulauan Maurutius
sejumlah biji kelapa sawit dibawa ke Inggris atau memasuki daratan benua Eropa tahun 1844.
Pada tahun 1848 dibawa oleh pemerintah kolonial belanda ke Indonesia, karena pada awalnya dianggap hanya untuk tanaman hias,dan untuk menambah kasanah botanical di wilayah kolonial belanda maka ditanamlah untuk  pertama kali di Kebun Raya Bogor.
Ada 4 tanaman yang ditanam di Kebun Raya bogor (Botanical Garden) Bogor,dahulu bernama Buitenzorg yaitu: dua berasal dari Bourbon (Mauritius) di benua afrika dan dua lainnya dari Hortus Botanicus, Amsterdam (Belanda).
Setelah lima tahun pada tahun 1853 terlihat keempat tanaman tersebut telah berbuah. Pada pengamatan tahun 1858, ternyata keempat tanaman tersebut bertambah tumbuh subur dan berbuah lebat mulailah bijinya disebar termasuk ke pulau Sumatera termasuk ke tanah deli.
Tanah deli sejak 1863 sudah berkembang dahulu dengan tanaman tembakau delinya yang kemudian terkenal secara internasional,  lalu sawit ditanamlah kemudian ditepi-tepi jalan di tanah deli dan lingkungan Perusahaan Tembakau Deli pada tahun 1870  yang pada awalnya “tak lain” hanya dipergunakan sebagai tanaman hias dan peneduh saja.
Catatan lain sejarah diketahui bahwa kelapa sawit telah diadakan uji coba penanaman kelapa sawit pertama di Indonesia tahun 1868 yang dilakukan di karesidenan Banyumas 14 acre dan di karisidenan Palembang 3 acre (Sumatera Selatan).
hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa tanaman kelapa telah berbuah pada tahun keempat setelah ditanam dengan tinggi batang 1,5 m, sedangkan di negeri asalnya baru berbuah pada tahun keenam atau ketujuh.
Selanjutnya uji coba dilakukan di Muara Enim tahun 1869, Musi Ulu 1870 dan Biliton 1890 (Van Heurn, 1948) tetapi tidak begitu baik pertumbuhannya.
Hal ini baru disadari kemudian, bahwa iklim daerah Palembang dianggap kurang sesuai untuk pertumbuan kelapa sawit, berbeda kemudian ketika dikembangkan ke Sumatera Utara, ternyata sungguh baik.
1904 adalah penanaman perdana Kelapa sawit di daerah Deli, Sumatera Utara,ya bisa diasumsikan sebagai eksebisi dululah....tapi oleh siapa ya???.
Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19.
Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura". Keunggulan kelapa sawit Sumatera Utara sudah dikenal sejak sebelum perang dunia ke II dengan varietas “Dura Deli” (bahasa Inggirs: Deli Dura) yakni tanaman kelapa sawit yang ditanam di Tanah Deli (Medan dan sekitarnya).
Walaupun berbeda waktu penanaman (asal Bourbon lebih dulu dua bulan), tanaman tersebut berbuah dalam waktu yang sama, mempunyai tipe yang sangat beragam, kemungkinan diperoleh dari sumber genetik yang sama (Rutgers, 1922).
Kelapa sawit pada awalnya mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dalam lingkup Perusahaan/Badan Usaha di Hindia Belanda dirintis oleh  Adrien Hallet, warga  Belgia,
Ketertarikan Hallet pada tanaman tropis telah dimulai sejak 1889, di Africa dimana Ia telah banyak membantu beberapa pengusaha Francis - Belgia yang mengembangkan perkebunan disana.
Konon pada saat beliau berkunjung ke Sumatera tahun 1908, Adrien Hallet terkejut melihat pertumbuhan tanaman sawit di Sumatera yang jauh lebih baik dibandingkan lokasi asalnya di afrika, langsung pada tahun 1909 beliau (Adrien Hallet ) bersama partnernya M. Bunge mengawalinya dengan mendirikan Badan Usaha yang diberi nama : SOCFIN atau Société Financière des Caoutchoucs di Medan Societe Anonyme  sebagai cikal bakal perusahaan yang bergerak di bisnis perkebunan.
Selanjutnya Hallet melakukan pengujian dan pengamatan terhadap kelapa sawit, akhirnya ia memutuskan untuk membangun perkebunan sawit komersil (skala besar) pertama di Sumatera Utara pada 1911. 
Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1910.
Akhirnya dipilihlah 3 lokasi perkebunan untuk ditanami kelapa sawit, yakni Sei Liput (Aceh), Pulau Raja dan Deli Muda di wilayah Sumatera Bagian Utara.
Perkebunan sawit Adrien Hallet ini kemudian berkembang seluas 6.500 akre (2.600 hektar).
Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh ini Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara 
Bukan hanya di Indonesia, Adrian Hallet pada tahun yang sama juga membantu Henry Fauconnier dengan mengirim beberapa kantong biji kelapa sawit (Elaeis guineensis) dari Sumatera ke Malaysia untuk ditanam di Tennamaram dekat Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912.
Perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang dan “diasumsi”kan sebagai perkebunan minyak sawit pertama di Malaysia.
Usaha Adrien Hallet ini kemudian berkembang semakin menjanjikan hingga diikuti oleh K.Schadt, seorang pebisnis asal Jerman yang mengembangkan perkebunan sawit di Tanah Itam Ulu, Sumatera Utara, hingga pada akhir 1920, terdapat lebih dari 25 perusahaan perkebunan di Sumatera hanya dalam kurun waktu 4 tahun (1916 - 1920). 
Sekarang ini sudah tersebar luas di berbagai propinsi lain termasuk di P. Jawa melalui proyek PIR atau perluasan usaha Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) ataupun Perseoran Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) yang kebanyakan berpusat di Sumatera Utara, dan Riau serta pembukaan lahan baru oleh perusahaan asing maupun swasta nasional.
Pada awal tahun 80-an, tanaman kelapa sawit digelari sebagai komoditi primadona karena memberi keuntungan yang melimpah. Dengan adanya “boom” ini, perluasan areal dapat terealisasi dengan kemajuan yang pesat. Kalau sebelum perang dunia ke II, Sumatera Utara danAceh adalah penghasil munyak kelapa sawit terbesar di dunia, tetapi setelah perang, Malaysia adalah penghasil minyak sawit yang utama. Ini berkat kemajuan Malaysia mengelola perkebuna sawit secara efisien dan didukung oleh penelitian dan pengembangan teknologi yang mantap.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.


Semoga tidak senasib dengan Tembakau Deli.....!!!

Link artikel : 

No comments:

cari apa aja di OLX

Sponsor By :

TEMBAKAU DELI

Hobies

Momentum

DIREKSI PTPN 2012

Dirut PTPN I Wargani Direktur:Ramadhan Ismail Direktur:Abdul Mukti Nasution Direktur:Amrijal Direktur:Husni Ibrahim Dirut PTPN II Bhatara Moeda Nasution Direktur:Naif Ali Dahbul Direktur:Wisnu Budi Direktur:Komaruzaman Direktur:Hakim Bako Dirut PTPN III Megananda Daryono Direktur:Kusumandaru Direktur:Bagas Angkasa Direktur:Balaman Tarigan Direktur:Nurhidayat Direktur:Erwan Pelawi Direktur:Rahmad Prawirakusumah Dirut PTPN IV Erwin Nasution Direktur:Ahmad Haslan Saragih Direktur:Andi Wibisono Direktur:Setia Dharma Sebayang Direktur:Memet Dirut PTPN V Fauzi Yusuf Direktur:Suharjoko Direktur:Pontas Tambunan Direktur:Samsul Rizal Direktur:Berlino Mahendra Dirut PTPN VI Iskandar Sulaiman Direktur:Fahrur Razi Lubis Direktur:Ahmad Karimuddin Direktur:Arfinaldi Direktur:Nasulian Arifin Dirut PTPN VII Boyke Budiman Direktur:M. Nasir Direktur:Agus Rianto Direktur:Rafael Sibagariang Direktur:Budi Santoso Dirut VIII Dadi Sunardi Direktur:Irwan Abdul Direktur:Rahman Lubis Direktur:Dikdik Koesandi Direktur:Rahman Slamat Dirut IX Adi Prasongko Direktur:Slamat Purwadi Direktur:Natsir Tarigan Direktur:Ishak Direktur:Hanung Dirut X Subiyono Direktur:Doli P. Pulungan Direktur:Tarsisius Sudarianto Direktur:Mhd Sultan Direktur:Joko Sanioso Dirut XI Andi Punoko Direktur:Titis Adji Direktur:Burhan Chatib Direktur:Budi Hidayat Direktur:Eri Iswadi Dirut XII Singgih Irwan Basri Direktur:Sugeng Budiraharjo Direktur:Bambang Wijanarko Direktur:Sahala Hutasoit Direktur:Swarno Dirut XIII Baim Rachman Direktur:Sunardi Direktur:Anang Direktur:Umar Direktur:Pandapotan Girsang Dirut XIV Budi Purnomo Direktur:Amirullah Haris Direktur:Rispan Adi Adris Direktur:Mardianto Dirut RNI Persero Ismed Hasan Putro.