Quote:
dokumentasi "VERSI" elektronik-ku ini bermaksud membiasakan menggunakan " LESS PAPER " ,serta "PENGHORMATAN ATAS KEBEBASAN BERPENDAPAT,BEREKSPRESI,& BERKREASI," utk menyampaikan informasi,dalam "AKTIVITAS HARIAN".. beberapa "ada" yang dikutip dari berbagai sumber yang *inspiratif* jika ada yg kurang berkenan mohon dimaklumi,jika berminat utk pengembangan BloG ini silahkan kirim via email. mrprabpg@gmail.com...Thank's All Of You

running text

Search This Blog

sudah lihat yang ini (klik aja)?

Friday, May 10, 2013

CEGAH PENURUNAN HARGA

 Asosiasi Petani Batasi Ekspor Karet

PALEMBANG – Para pengusaha karet di Sumsel berkomitmen tidak mengekspor karet terlalu banyak ke negara konsumen untuk menghindari penurunan harga yang lebih tajam saat ini.
Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Awi Aman mengatakan meskipun pembatasan ekspor secara kolektif oleh ketiga negara produsen tidak lagi diberlakukan, tetapi kondisi pasar dunia masih tidak menunjukkan kabar yang menggembirakan.

“Anggota [Gapkindo] sudah diimbau untuk tidak menjual karet sebanyak-banyaknya pasca pembebasan ekspor agar tidak berdampak pada penurunan harga,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (8/5).
Dia menampik bahwa penurunan harga yang terjadi saat ini adalah dampak dari negara produsen lain mulai jor-joran menjual karet sehingga banjir produksi.
Menurut Awi, harga yang sudah terlanjur turun sekarang merupakan imbas dari masih lesunya kondisi negara konsumen, yaitu China dan negara-negara di Amerika serta Eropa.
“Sekarang ini harga sangat bergantung pada permintaan yang dipengaruhi oleh kondisi masing-masing pasar. Jika perekonomian negara konsumen masih lesu maka mau barang dibatasi atau tidak masih saja harganya tidak bagus,” paparnya.
Berdasarkan data Gapkindo Sumsel, sepanjang April 2013 lalu atau setelah pengurangan jatah tidak lagi diterapkan, harga bahan olah karet (bokar) tingkat pabrik menunjukkan tren menurun.
Pada 1 April 2013, harga bokar pabrik kualitas 90% sebesar Rp23.500 per kg dan merosot jadi Rp20.968 per kg di pengujung bulan.
Sementara untuk harga bokar kualitas 85% turun menjadi Rp19.803 per kg dari sebelumnya Rp22.195 per kg. untuk bokar kualitas tinggi 93%, harga bokar mencapai Rp24.284 per kg pada awal April dan turun menjadi Rp21.666 per kg.
Awi melanjutkan volume ekspor karet pada tahun ini tidak akan menunjukkan lompatan yang tinggi ataupun menurun drastis dibanding tahun sebelumnya.
“Melihat kondisi yang tidak berbeda pada tahun lalu, maka volume ekspor karet Sumsel juga tidak akan berbeda jauh masih berkisar 800.000 ton sampai 900.000 ton,” ujarnya.
Dia mengemukakan jika perkembangan ekonomi global masih bertahan pada kondisi yang lesu maka akan sulit mengharapkan harga karet akan bergairah seperti 2011.
“Dan kami juga tidak bisa mengharapkan pasar domestik karena industri hilir karet di Sumsel maupun secara nasional masih sangat minim,” paparnya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumsel Benyamin mengatakan penurunan harga karet memang dipengaruhi kondisi perdagangan global.
“Malaysia sudah mulai melepas stok karetnya sehingga terjadi penumpukan komoditas di pasar internasional. Di tingkat petani sendiri memang produksi sepertinya sedang meningkat,” tambahnya. (esu)
Menurut Benyamin, saat harga anjlok petani yang paling terkena dampak karena tidak ada perlindungan harga untuk hasil kebun mereka.
Benyamin mengatakan sudah seharusnya digalakkan sistem resi gudang untuk petani karet sehingga petani memiliki jaminan serta daya tawar saat harga anjlok.
Dia mengatakan dengan sistem ini petani dapat menunda penjualan komoditas setelah panen, sambil menunggu harga membaik.

Bisnis Sumatera

cari apa aja di OLX

Sponsor By :

TEMBAKAU DELI

Hobies

Momentum