Quote:
dokumentasi "VERSI" elektronik-ku ini bermaksud membiasakan menggunakan " LESS PAPER " ,serta "PENGHORMATAN ATAS KEBEBASAN BERPENDAPAT,BEREKSPRESI,& BERKREASI," utk menyampaikan informasi,dalam "AKTIVITAS HARIAN".. beberapa "ada" yang dikutip dari berbagai sumber yang *inspiratif* jika ada yg kurang berkenan mohon dimaklumi,jika berminat utk pengembangan BloG ini silahkan kirim via email. mrprabpg@gmail.com...Thank's All Of You

running text

Search This Blog

sudah lihat yang ini (klik aja)?

Thursday, March 13, 2014

Respons: BUDIDAYA TANAMAN KENAF


www.ibd.utm.my

 
foto kebun kenaf di desa kalumpang kabupaten tapin kalimantan selatan
PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKHNOLOGI menjadikan Kenaf merupakan komoditi perkebunan yang "diprediksi" cukup menjanjikan. Tanaman semusim tersebut merupakan bahan baku karung goni, pulp, kertas, tekstil, fiberboard dan particle board, pakan ternak,atau kerajinan tangan dll.


Benih-benih yang hendak dibibitkan, sebaiknya direndam dahulu 12 – 18 jam, kemudian ditaruh di tempat lembab. Setelah lembaga keluar, baru ditanamn di pembibitan. Tanaman di pembibitan sampai umur 7 sampai 10 hari setelah itu dipindahkan ke lapangan.

Namun tanaman kenaf selain melalui pembibitan lebih dahulu dapat pula ditaman langsung benihnya. Untuk penanaman langsung, benih ditanaman dalam lobang sedalam 2 -3 cm, 4 -6 biji tiap lobang dan kemudian ditutup dengan tanah sekedarnya.

Pada waktu menanam bedengan harus dalam keadaan lembab kapasitas lapang. Dan waktu bertanam yang baik adalah pada awal musim hujan.

 VARIETAS UNGGUL KENAF

 Saat ini terdapat 4 varietas unggul kenal yang telah dilepas yakni:

1) Karangploso 6 (KR 6). Varietas ini berumur genjah, mulai berbungan pada umur 75 - 75 hari dan sudah bisa dipanen pada umur 90 - 100 hari. Potensi hasil seratnya tinggi (2,70 - 3,66 ton/ha). Tahan terhadap genangan. Sesuai untuk dikembangkan pada lahan bonorowo. Rekatif peka terhadap fotoperiodisitas dan serangan hama wereng serta nematoda. Memiliki produktivitas benih tinggi, yakni 1 - 2 ton/ha

2) Karangploso 9 (KR 9). Varietas ini mulai berbunga pada umur 86 - 92 hari dan bisa dipanen pada umur 120 - 130 hari. Potensi hasil serat tinggi (2,75 - 4,20 ton/ha). Tahan genangan dan kekeringan. Sesuai untuk dikembangkan pada lahan bonorowo, tadah hujan dan PMK. Kurang terpengaruh fotoperiodisitas. Dapat ditanam di sembarang waktu tanam. Agak peka terhadap hama wereng kenaf dan nematoda puru akar. Produktivitas benih rendah yakni 0,5 - 0,7 ton/ha.

3) Karangploso 11 (KR 11). Potensi seratnya tinggi (2,75 - 4,20 ton/ha). Berumur dalam, mulai berbunga pada umur 86 - 92 hari dan umur panen 130 -140 hari. Tahan terhadap genangan dan kekeringan. Sesuai untuk dikembangkan pada lahan bonorowo, tadah hujan, PMK dan gambut. Kurang terpengaruhi fotoperiodesitas. Dapat ditanam di sembarang waktu tanam. Agak tahan terhadap hama wereng kenaf dan nematoda puru akar. Memiliki produktivitas benih rendah yakni 0,5 - 0,7 ton/ha.

4) Karangploso 12 (KR 12). Potensi hasil seratnya tinggi (2,56 - 4,07 ton/ha). Berumur dalam, mulai berbungan pada umur 85 - 92 hari dan umur panen 130 -140 hari. Tahan terhadap gerangan air dan agak toleran terhadap keracunan Al. Sesuai untuk dikebmangkan pada lahan tadah hujan, bonoworo dan PMK. Kurang terpengaruh fotoperiodisitas. Dapat ditanam di sembarang waktu tanam. Agak peka terhadap hama wereng kenaf dan nematoda puru akar. Produktivitasi benih rendah yakni (0,5 - 0,7 ton/ha).

Keempat varietas ini dapat diperoleh di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (jl. Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang 65152, telp (0341) 491447)


Artikel lainnya :

Budidaya Tanaman Kenaf

a. Persyaratan Tumbuh
Kenaf dapat tumbuh hampir pada semua tipe tanah, tetapi tanah yang ideal untuk kenaf yaitu tanahlempung berpasir atau lempung liat berpasir dengan drainase yang baik (Dempsey, 1963). Sebagai petunjuk, bila tanah cocok untuk tanaman jagung, berarti juga cocok untuk kenaf. Kenyataannya pengembangan kenaf juga berada di daerab pertanaman jagung. Pada umumnya petani menanam kenaf secara tumpang sari atau tumpang sisip dengan jagung. Kenaf agak tahan kekeringan, namun karena seluruh bagian vegetatifnya (batang) harusdipanen pada umur 3,5-4 bulan, maka ketersediaan air selama pertumbuhan harus cukup. Kebutuhan air untuk kenaf sebesar 600 mm selama empat bulan (Iswindiyono dan Sastrosupadi, 1987). Kisaran pH cukup luas, yaitu dari 4,5-6,5 sehingga kenaf dapat tumbuh baik di tanah yang agak masam, antara lain di lahan gambut, khususnya untuk varietas He G4.

Drainase pada stadia awal pertumbuhan harus baik, meskipun pada stadia lanjut kenaf dapat tumbuh dalam keadaan tergenang. Di daerab banjir waktu tanam harus diatur sedemikian rupa sehingga pada waktu mulai tergenang tanaman paling sedikit sudah berumur dua bulan. Dengan cara tersebut kenaf masih dapat menghasilkan serat cukup tinggi. Tanaman semakin tua semakin tahan terhadap genangan.
Iklim
Curah hujan yang dikehendaki oleh kenaf selama pertumbuhannya sebesar 500-750 mm atau curah hujan setiap bulan 125-150 mm (Berger, 1969; Sinha dan Guharoy, 1987; Dempsey, 1963). Bila curah hujan kurang dari jumlah tersebut, umumnya perlu dibantu dengan pengairan dari irigasi maupun pompa.

b. Pengadaan benih bermutu
Pengadaan benih sebar harus berkesinambungan, setiap tahun harus tersedia sesuai dengan areal tanaman serat. Dalam situasi seperti ini, selain jumlab benih, maka mutu benih (mutu genetis, fisis, dan fisiologis) perlu ditangani dengan sungguh-sungguh. Sampai saat ini Balittas masih sanggup menyediakan benih dasar, selanjutnya penangkaran menjadi benih pokok dan sebar menjadi tanggung jawab pihak pengelola. SebeIum ada pihak yang berhak mengeluarkan sertifikat benih, Balittas ditunjuk untuk melaksanakan sertifikasi benih dengan dukungan dana dari pengelola. Untuk keperluan ini Balittas sejak awal harus terlibat langsung, khususnya dalam penyelenggaraan kebun penangkar benih. Dari benih yang bermutu akan memperoleh produktivitas serat yang tinggi meskipun harga benih menjadi lebih mahal.daripada harga sekarang yaitu Rp1.250/kg. Sebagai imbalannya, pemakaian benih per hektar berkurang dan dapat dijamin produktivitas seratnya lebih tinggi. Pada Tabel 1 disajikan biaya produksi untuk memproduksi benih dasar kenaf Hc 48 per hektar di KP Asembagus Harga benih dasar kenaf Hc 48 di KP Asembagus Rp 2.974.000/1.200 kg =Rp2.478,33/kg atau dibulatkan Rp2.500. Diperkirakan bila mengusahakan benih sebar di daerah Asembagus akan menghasilkan 1.400kg/ha dengan biaya Rp2.494.000,- sehingga harga benih sebar Hc 48 = Rp1.781,-/kg atau dibulatkan Rp1.800,-/kg. Bagi pengelola yang menginginkan benih dasar dari Balittas harus mengajukan rencananya satu tahun sebelum tanam. Perlu diingat bahwa benih dasar yang dihasilkan baru dapat menjadi benih sebarpada tahun ke-3 seperti alur pengadaan benih di bawah ini. Diperkirakan bila mengusahakan benih sebar di daerah Asembagus akan menghasilkan 1.400 kg/ha dengan biaya Rp2.494.000,- sehingga harga benih sebarHc 48 = Rp1.781,-/kg atau dibulatkan Rp1.800,-/kg.

c. Waktu Tanam Setempat
Tanaman kenaf tergolong tanaman hari pendek. Bila tanaman tersebut ditanam pada bulan-bulan dengan fotoperiode yang pendek, maka tanaman akan cepat berbunga, batang pendek, dan produktivitas seratnya rendah. Agar tanaman berbatang tinggi (> 2,5 m) dan berdiameter optimal (1,5 cm), maka pada fase vegetatif harus mendapat penyinaran yang panjang. Jadi selama pertumbuhan fase vegetatif tersebut diusahakan jatuh pada bulan yang mempunyai fotoperiode panjang. Oleh karena itu bulan tanam harus disesuaikan dengan ritme pergerakan bumi mengelilingi matahari. Untuk belahan bumi selatan maka bulan yang mempunyai fotoperiode panjang jatuh pada bulan Agustus-Oktober.Patokan waktu tanam untuk varietas tanaman serat karung disajikan pada Tabel

d. Populasi Tanaman Dan Jarak Tanam
Populasi dan jarak tanam tergantung dari tingkat kesuburan tanahnya. Pada umumnya populasi untuk TSK berkisar dari 250.000-330.000 tanaman/ha atau dengan jarak tanam (20 cm x 20 cm)-(20 cm x 15 cm) dengan satu tanaman tiap lubang. Tanaman serat karung yang dipanen adalah bagian vegetatifnya, agar produktivitasnya tinggi, maka tanaman harus berbatang tinggi dengan diameter besar. Tanaman yang berdiameter kecil ( < 10 mm) seratnya akan mudah hancur pada waktu retting (proses perendaman batang) dan bila diameternya terlabesar (> 22 mm), bagian bawah batang membutuhkan waktu retting yang lama atau sulit untuk diserat. Nurheru et al. (1990) telah memperoleh hubugan antara hasil serat dengan tinggi dan diameter batang kenaf Hc 48 pada 15 hari sebelum panen sebagai berikut:

Y = 0,7T 0,65 D11,43
Y adalah hasil serat untuk 100.000 batang dalam kg, T tinggi tanaman dalam cm, dan D1 diameter batang bagian bawah dalam mm (diukur + 10 cm dari permukaan tanah atau pangkal batang). Dalam praktek masih banyak dijumpai petani memelihara lebih dari dua tanaman/lubang. Hal ini mungkin disebabkan cara penanamannya dengan cara disebar. Rasa sayang petani untuk membuang tanaman yang berkelebihan masih melekat dan sulit untuk disadarkan. Alasnnya antara lain untuk berjagajaga bila ada pengaruh luar yang kurang baik (hama, penyakit, kerusakan lain), atau mungkin kurang tersedianya tenaga untuk mclakukan penjarangan sehingga jumlah tanaman masih tetap banyak.

e. Pemupukan
Pada dasarnya pemupukan untuk kenaf menganut sistem pemupukan berimbang, yaitu pemberian hara disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan tingkat kesuburan tanahnya. Menurut Ghosh (1978) panen serat varietas Hc 867 sebesar 1,7 ton/ha menyerap unsur hara 96 kg N, 26 kg P, 120 kg K, 137 kg Ca, dan 29 kg Mg. Dari hasil analisis tanah di wilayah pengembangan kenaf, unsur K, Ca, dan Mg umumnya tidak menjadi masalah atau cukup tersedia, sedang N dan P sering kekurangan, terutama unsure N. Hal ini sesuai dengan sifat tanaman kenaf. Karena yang dipanen bagian vegetatif berupa batang, maka tanaman kenaf sangat responsif terhadap pemupukan N. Pemberian 1/3 N pada umur 10 hari dimaksudkan untuk starter, karena sampai umur satu bulan laju pertumbuhan kenaf masih kecil. Laju pertumbuhan terbesar terjadi pada umur 30 hari sampai dengan umur 60 hari. Karena itu 213 N diberikan pada waktu kenaf berumur 30-35 hari. Pupuk N dapat pula diberikan tiga kali, yaitu pada umur 10, 30, dan 60 hari.

f. Panen Dan Penyeratan
Umur panen sangat mempengaruhi produktivitas dan kualitas serat. Umur panen yang optimal untuk kenaf yaitu bila 50% dari populasi sudah berbunga atau dapat ditunda sampai bunga yang kesepuluh mekar. Pada waktu mulai berbunga tanaman dalam Case generatif dan pertumbuhan vegetatif yang dicerminkan oleh aktivitas kambium mulai berhenti. Dalam Case vegetatif, kambium membentuk kulit dan sel-sel serat. Dalam fase generatif sudah tidak terjadi pembentukan serat. Bila panen terlambat atau kelewat masak, akan terjadi perombakan karbohidra~ serat untuk dikirimkan ke buah. Panen yang terlalu muda menghasilkan produktivitas dan kualitas yang rendah, meskipun warna seratnya putih. Sebaliknya panen yang terlalu tua (buah sudah mulai kering) kualitas seratnya rendah, serat menjadi rapuh karena meningkatnya kandungan lignin dan kekuatan serat juga turun Pemotongan batang hendaknya pada pangkal batang dekat permukaan tanah, karena kandungan serat yang paling tinggi terdapat pada sepertiga batang bagian bawah.
Perendaman batang atau kulit (retting)

Agar dapat diambil seratnya, maka batang berkulit atau kulit batang harus direndam dalam kolam perendaman. Dengan perendaman sel-sel serat dapat terlepas melalui proses mikrobiologis. Terlepasnya serat hanya dapat dilakukan karena adanya perombakan substansi yang mengelilingi sel serat oleh aktivitas bakteri. Bila. yang direndam seluruh batang, maka waktu yang diperlukan untuk perendaman adalah 14-20 Hari. Bila yang direndam banya kulitnya, waktu perendaman hanya 7-10 hari saja. Untuk melepaskan kulit dari kayu kenaf digunakan alat pengelupas kulit atau ribboner. Proses penyeratan dan perendaman batang merupakan pekerjaan yang sangat banyak membutuhkan tenaga dan biaya. Umumnya kemampuan petani untuk menyerat adalah 15-20 kg serat kering/ha/orang. Selain memerlukan banyak tenaga, pekerjaan menyerat dirasakan se bagai pekerjaan yang kurang nyaman karena berhadapan.

dengan proses pembusukan kulit oleh kegiatan mikroba yang menghasilkan aroma yang kurang sedap.
Serat akan meneapaigrade A apabila ketentuan sebagai berikut dapat dipenuhi:
a. Perendaman ditempatkan pada kolam-kolam rendaman yang airnya mengalir secara per lahan-lahan. Batang harus berada di bawah permukaan air. Sebagai pemberat batang agar terendam air digunakan bahan-bahan yang tidak mempengaruhi kualitas.
b. Batang pisang tidak baik sebagai bahan pemberat karena mengandung senyawa tanin yang dapat menyebabkan serat berwarna hitam. Juga bahan mengandung Fe perlu dihindari karena Fe menyebabkan warna serat menjadi hitam.
c. Merendam batang yang mempunyai ukuran relatif sama agar diperoleh waktu masak yang seragam.
d. Diameter ikatan batang yang direndam jangan melebihi 20 cm karena bila terlalu besar bagian dalam memerlukan waktu masak lebih lama.
e. Kedalaman kolam rendaman kurang lebih 100 cm
Pemberian Urea ke dalam kolam perendaman dapat mempersingkat waktu retting dan meningkatkan kualitas serat. Dosis Urea untuk setiap 1.000 kg batang yang direndam adalah 0,1 kg (Adjie, 2007).

DAFTAR PUSTAKA


Adjie, 2007. Budidaya Khenaf. Jurnal Balai Penelitian Tanaman tembakau dan Serat. Malang. Diakses 18 April 2011.

Berger, J. 1969. The world's major fiber crops, their cultivation and manuring. Centre D'Etude Del Azote 6, Zurich.

Dempsey, J.M. 1963. Long vegetable fiber development in South Vietnam and Other Asian Countries. USOM-Saigon. Disbun TIt. I Jawa 1imur. 1992. Laporan evaluasi Program ISKARA 1991/1992.Surabaya.

Ghosh, T. 1978. Jute manual. Agric. Res. lost. Yesin. Burma.

Iswindiyono, S. dan A Sastrosupadi. 1987. Pengaruh interval pemberian air pada tenaf dan jute terbadap pertumbuhan.Skripsi SI Rttultas Pertanian, UPN "Veteran" Sufabaya.

Nurheru, A. Chandra Setiawan, dan A Sastrosupadi. 1990. Studi pendahuluan pendugaan produksi serat tenaf Hc 48 berdasarkan tinggi tanaman dan diameter batang. PTTS 5(2): 132-138.

Sastrosupadi, A. 1989. Hasil-basil penetitian serat batang selama Pelita IV. Prosiding Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Thnaman Industri, Bogor.

Sinha, M.K. and M.K Guharoy. 1987. Production technologies for jute and allied fibers. JARI, Barrack pore, West Bengal.

 http://taufikagt.blogspot.com/2011/04/budidaya-tanaman-khenaf.html



 Foto : http://kebunkenaf.blogspot.com/


Sumber lainnya :  http://balittas.litbang.deptan.go.id/ind/images/Monograf/budidaya%20kenaf.pdf


Teriman kasih Sdr/i ERRY atas partisipasinya , sy coba mempostingkan dari berbagai sumber tentang tanaman kenaf yang dapat menjadi inspirasi bagi anda :

erry no-reply@kontactr.com

5 Mar (8 hari yang lalu)

ke saya
mohon minta penjelasan tentang bibit kenaf,sy berniat membudidayakannya
dalam skala besar, juga minta referensi penyedia bibit dan varietas yg
unggul yang ada di nehgara asal pengembang kenaf.
lebih disenangi berikut teknik budidayanya
terima kasih atas bantuanya.
salam


 oiya ! hal lagi pak,, dimana kami bisa melihat budidaya pohon kenaf yg
terdekat dgn alamat kami dalam skala perkebunan.daerah mana sekarang yg
sedang mengembangkanya di negara kita, sy tinggal di jakarta.
salam

cari apa aja di OLX

Sponsor By :

TEMBAKAU DELI

Hobies

Momentum

DIREKSI PTPN 2012

Dirut PTPN I Wargani Direktur:Ramadhan Ismail Direktur:Abdul Mukti Nasution Direktur:Amrijal Direktur:Husni Ibrahim Dirut PTPN II Bhatara Moeda Nasution Direktur:Naif Ali Dahbul Direktur:Wisnu Budi Direktur:Komaruzaman Direktur:Hakim Bako Dirut PTPN III Megananda Daryono Direktur:Kusumandaru Direktur:Bagas Angkasa Direktur:Balaman Tarigan Direktur:Nurhidayat Direktur:Erwan Pelawi Direktur:Rahmad Prawirakusumah Dirut PTPN IV Erwin Nasution Direktur:Ahmad Haslan Saragih Direktur:Andi Wibisono Direktur:Setia Dharma Sebayang Direktur:Memet Dirut PTPN V Fauzi Yusuf Direktur:Suharjoko Direktur:Pontas Tambunan Direktur:Samsul Rizal Direktur:Berlino Mahendra Dirut PTPN VI Iskandar Sulaiman Direktur:Fahrur Razi Lubis Direktur:Ahmad Karimuddin Direktur:Arfinaldi Direktur:Nasulian Arifin Dirut PTPN VII Boyke Budiman Direktur:M. Nasir Direktur:Agus Rianto Direktur:Rafael Sibagariang Direktur:Budi Santoso Dirut VIII Dadi Sunardi Direktur:Irwan Abdul Direktur:Rahman Lubis Direktur:Dikdik Koesandi Direktur:Rahman Slamat Dirut IX Adi Prasongko Direktur:Slamat Purwadi Direktur:Natsir Tarigan Direktur:Ishak Direktur:Hanung Dirut X Subiyono Direktur:Doli P. Pulungan Direktur:Tarsisius Sudarianto Direktur:Mhd Sultan Direktur:Joko Sanioso Dirut XI Andi Punoko Direktur:Titis Adji Direktur:Burhan Chatib Direktur:Budi Hidayat Direktur:Eri Iswadi Dirut XII Singgih Irwan Basri Direktur:Sugeng Budiraharjo Direktur:Bambang Wijanarko Direktur:Sahala Hutasoit Direktur:Swarno Dirut XIII Baim Rachman Direktur:Sunardi Direktur:Anang Direktur:Umar Direktur:Pandapotan Girsang Dirut XIV Budi Purnomo Direktur:Amirullah Haris Direktur:Rispan Adi Adris Direktur:Mardianto Dirut RNI Persero Ismed Hasan Putro.