Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) berupaya maksimal
untuk merealisasi target pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) yang
sahamnya sebagian dimiliki petani pada tahun ini.
"Harapan
Apkasindo, pembangunan PKS yang sahamnya juga dimiliki petani itu bisa
dibangun sesuai dengan target, yakni pada tahun ini," kata Ketua Umum Apkasindo, Anizar Simanjuntak, di Medan, Minggu 20 Januari 2013.
Pembangunan PKS itu dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan petani dengan pengendalian fluktuasi harga jual, katanya.
Dia
mengakui bahwa pembangunan PKS itu juga melibatkan atau bekerja sama
dengan investor karena pembangunan PKS membutuhkan dana yang terbilang
besar.
"Yang pasti ada saham petani melalui koperasi di PKS itu.
Bahkan, direncanakan saham koperasi petani itu di PKS bisa terus
bertambah," katanya.
Pembangunan PKS itu dilakukan Apkasindo
untuk bisa mengendalikan fluktuasi harga TBS sawit, khususnya milik
petani, dan sekaligus mengajar petani menjaga mutu buah yang dijual.
Selama
ini, menurut dia, PKS di berbagai daerah dinilai tidak pernah
menerapkan harga patokan yang ditentukan sehingga merugikan petani.
Harga yang diberikan kepada petani selalu di bawah ketentuan dengan dalih kualitas TBS petani kurang bagus.
Diakui
juga bahwa petani sering membuat kesalahan dengan lebih mementingkan
volume dengan cara mencampur sedikit buah yang belum matang pada TBS
yang dijual ke PKS, dan itu sering dijadikan alasan pengusaha PKS bahwa
mutu buah petani kurang bagus.
"Kalau pun bagus, petani hampir tidak pernah dikasih insentif seperti yang sudah diatur oleh Pemerintah," katanya.
Menurut Anizar, rencananya PKS itu akan dibangun di beberapa daerah.
"Akan
tetapi, akhirnya semua kembali kepada minat investor dan saat ini
Apkasindo terus menjajaki peluang itu ke beberapa investor yang seja
awalnya menyambut gembira kerja sama itu," katanya.
Sejalan
dengan rencana pembangunana PKS, Apkasindo mendesak pemerintah
kota/kabupaten memberikan perhatian dan mendukung kinerja petani kelapa
sawit dengan membangun infrastruktur jalan.
Selama ini, kata dia,
petani kesulitan mengakses perkebunan mereka dan mengangkut hasilnya ke
pasar karena sulitnya akses jalan dan itu membuat biaya relatif tinggi.
Direktur
Asian Agri, Semion Tarigan, pada suatu kesempatan bertemu wartawan,
mengatakan bahwa perusahaan itu terus membuat program pembinaan terhadap
petani untuk meningkatkan produktivitas.
"Kerja sama dengan
petani terus dijalin erat agar sama-sama berproduksi dengan baik. Bisnis
sawit masih menjanjikan sehingga kerja sama dengan petani swadaya dan
petani plasma dan KKPA (Kredit Koperasi Primer untuk Anggota) yang terus
diperkuat," katanya.(antara)