"Harga karet sekarang hanya Rp8.000 sampai Rp10.000 per kilogram. Sebelumnya mencapai Rp12.000 hingga Rp20.000," kata Jaidi (26) seorang petani karet di Kecamatan Mandor.
Menurutnya, dengan murahnya harga jual karet tentu berdampak dalam ekonomi masyarakat. Karena harga beras saja paling murah Rp9.000 per kilogram, sementara harga karet Rp8.000 per kilogram.
"Jadi tidak seimbang, kita berharap pihak terkait bisa memperhatikan keluhan masyarakat petani. Saya tidak tahu faktor apa karet selalu mengalami perubahan harga. Kalau naik sedikit-sedikit tapi kalau turun langsung anjlok tajam," ungkap Jaidi.
Akibat harga karet murah, sebagian warga di Kecamatan Mandor mencari kerja sampingan seperti jual kue, dan kerja mencari emas dengan cara patungan membeli mesin robin (dompeng) untuk menyemprot pasir di lokasi tambang emas.
"Lumayan satu hari dapat 1 gram emas dengan harga jual Rp300 ribu. Kita bagi dua orang, bisa menambah untuk kebutuhan sehari-hari. Karena harga karet tidak bisa kita harapkan saat anjlok saat ini," kata Jaidi.
Senada diutarakan Rosmiati (23) dengan murahnya harga karet, warga jadi tidak semangat untuk menoreh getah atau karet di kebun. Jika mahal, malam sampai subuh hari warga sudah berbondong-bondong pakai obor menoreh di kebun.
"Sekarang, pergi ke kebun nunggu sudah terang atau pagi hari baru berangkat noreh karet. Karena sudah menjadi mata pencaharian, terpaksa meskipun murah tetap ditekuni masyarakat. Karena mau kerja apalagi kalau tidak noreh karet," kata Rosmiati.
Sementara itu Salami tokoh masyarakat di Desa Kayuara Kecamatan Mandor mengaku, kebun karetnya seluas 3 hektare selama ini ditoreh warga. Sehingga ia mendapat sistem bagi hasil. Hanya karena harga karet menurun otomatis pendapatan juga menurun.
"Kemudian saat ini musim hujan, sehingga kebun karet tidak bisa ditoreh karena pohon lembab," tukas Salami.
(dn/DN/bd-ant)/BD
No comments:
Post a Comment